Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

11 Ramadhan: Wafatnya Tokoh Tabi’in, Said bin Jubeir


Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Telah terbunuh Said bin Jubeir. Dan tiada seorang pun di muka bumi ini melainkan membutuhkan ilmunya.”

Siapakah Said bin Jubeir?

Said bin Jubeir adalah tokoh ulama tabi’in. Ia berasal dari Habasyah. Dalam mencari kemuliaan memahami agama, tak tanggung-tanggung, ia langsung berguru dengan banyak sahabat senior. Di antaranya: Abu Said al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Tha-i, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas hingga Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anhum.

Di masa hidup Said bin Jubeir terdapat seorang pemimpin yang zhalim bernama Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Ia adalah gubernur Daulah Umayyah. Pernah menjabat gubernur Madinah dan Irak. Sebagian ulama telah memvonis kafir Hajjaj bin Yusuf. Karena kezhaliman yang luar biasa yang ia lakukan. Ribuan atau puluhan ribu nyawa kaum muslimin telah melayang di tangannya.

Ketika terjadi perselisihan antara Abdurrahman bin Asy’ats dengan Hajjaj bin Yusuf. Banyak tokoh tabi’in mendukung Abdurrahman bin Asy’ats. Di antara mereka adalah Said bin Jubeir, Abdurrahman bin Laila, asy-Sya’bi, Abul Bakhtari, dll.

Terjadi peperangan sengit antara Hajjaj dan Ibnu Asy’ats. Awalnya Ibnu Asy’ats berhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang dikuasai Hajjaj. Tapi akhirnya Hajjaj mampu mengatasi perlawanan Ibnu Asy’ats. Setelah menggapai kemenangan, Hajjaj memerintahkan semua yang ia anggap memberontak untuk memperbarui bai’at.

Orang-orang yang menyerah itu datang untuk berbai’at. Namun mereka dikejutkan oleh kejadian yang tak mereka duga. Hajjaj berkata kepada salah seorang di antara mereka, “Apakah engkau mengaku kafir karena telah membatalkan bai’atmu kepada amirmu?” Jika dia menjawab, “Ya” Bai’atnya yang baru diterima dan dibebaskan. Jika tidak, maka dibunuh.

Salah seorang di antara yang ditanyai itu adalah orang tua dari suku Khat’am. Ketika terjadi konflik antara Hajjaj dan Ibnu Asy’ats, dia tidak memihak siapapun. Ia mengasingkan diri. Menunggu redanya huru-hara. Ia digiring menuju Hajjaj.

Orang tua itu mengatakan, “Semenjak meletus pertempuran, aku mengasingkan diri ke tempat yang jauh sambil menunggu perang usai. Setelah Anda menang dan perang usai, barulah aku datang kemari untuk melakukan bai’at.”

“Celaka engkau! Engkau tinggal diam menjadi penonton dan tidak ikut membantu pemimpinmu?! Sekarang, apakah engkau mengakui bahwa dirimu telah kafir?!” Bentak Hajjaj.

“Terkutuklah aku jika selama 80 tahun ini mengabdi kepada Allah, lalu mengakui sebagai kafir,” jawab orang tua itu mantab.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu,” balas Hajjaj.

Orang tua itu menjawab, “Jika kau membunuhku, demi Allah, yang tersisa dari usiaku selama ini hanyalah seperti waktu kesabaran seekor keledai yang kehausan. Pagi hari dia minum dan sorenya mati. Aku memang sudah menantikan kematian itu siang dan malam. Karena itu, lakukanlah semaumu.”

Orang tua itu pun dipenggal lehernya.

Pembantaian besar-besaran ini telah menelan ribuan korban. Dan ribuan yang lain selamat adalah mereka yang dipaksa mengakui kekafiran. Said bin Jubeir juga yakin. Kalau seandainya ia tertangkap, juga akan dihadapkan pada dua pilihan itu. Dua pilihan, yang paling manis antara keduanya pun pahit. Karena itu, ia pergi dari Irak. Kemudian memilih Mekah sebagai tempat tinggal yang baru.

Sepuluh tahun tinggal di Mekah. Waktu yang lama untuk menghilangkan dendam dan kedengkian Hajjaj. Akan tetapi, terjadi perkembangan situasi di Mekah. Seorang gubernur baru, Khalid bin Abdullah al-Qasari, diangkat menjadi pimpinan tertinggi di kota suci itu. Ia seorang yang zalim. Murid-murid Said yakin akan terjadi sesuatu pada guru mereka. Mereka pun menyarankan agar sang ulama pergi ke kota lainnya. Said menjawab, “Demi Allah, sudah lama aku bersembunyi. Sampai malu rasanya kepada Allah. Aku telah memutuskan tetap tinggal di sini. Pasrah dengan kehendak Allah.”

Apa yang diduga oleh murid-murid Said menjadi kenyataan. Said ditangkap, diikat, dan dibawa menuju Hajjaj di Irak.

Setelah tiba di hadapan Hajjaj. Pemimpin zalim itu bertanya kepada Said, bagaimana pendapatnya tentang Nabi Muhammad dan empat khalifah rasyidun. Sampailah pertanyaannya tentang khalifah Bani Umayyah.

“Khalifah yang mana dari Bani Umayyah yang paling kau sukai?” tanya Hajjaj.

“Yang paling diridhai Pencipta mereka,” jawab Said.

“Manakah yang paling diridhai Rabnya,” Hajjaj menajamkan pertanyaan.

Said menjawab, “Ilmu tentang itu hanyalah diketahui oleh Yang Maha Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi.”

“Bagaimana pendapatmu tentan diriku,” tanya Hajjaj lagi.

“Engkau lebih tahu tentang dirimu,” jawab Said.

“Aku ingin mendengar pendapatmu,” kata Hajjaj.

Said berkata, “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.”

“Aku harus tahu dan mendengarnya darimu,” paksa Hajjaj.

Said mengatakan, “Yang kuketahui, engkau telah melanggar Kitabullah. Engkau mengutamakan hal-hal yang kelihatan hebat, padahal justru membawamu ke arah kehancuran. Dan menjermuskanmu ke neraka.”

Hajjaj yang murka mengatakan, “Kalau begitu, demi Allah aku akan membunuhmu.”

“Bila demikian, engkau telah merusak duniaku dan aku merusak akhiratmu,” Said menanggapi dengan santai.

“Pilihlah untukmu, cara kematian yang kau sukai,” tantang Hajjaj.

“Pilihal sendiri wahai Hajjaj. Demi Allah, untuk setiap cara yang kau lakukan, Allah akan membalasmu dengan cara yang setimpal di akhirat.” kata Said.

“Tidakkah engkau menginginkan ampunanku,” kata Hajjaj.

“Ampunan itu hanyalah dari Allah. Sedangkan engkau tak punya ampunan dan alasan lagi di hadapan-Nya,” kata Said.

Memuncaklah kemarahan Hajjaj. Kepada algojonya ia perintahkan, “Siapkan pedang dan alasnya!”

Said tersenyum mendenganya. Sehingga bertanyalah Hajjaj, “Mengapa kau tersenyum?!”

“Aku takjub akan kecongkakanmu terhadap Allah dan kelapangan Allah terhadapmu,” jawab Said.

Hajjaj berkata, “Bunuh dia sekarang!!”

Said menghadap kiblat sambil membaca firman Allah:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Quran Al-An’am: 79].

“Palingkan ia dari kiblat,” perintah Hajjaj.

Kemudian Said membaca firman Allah:

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّه

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.” [Quran Al-Baqarah: 115].

“Sungkurkan dia ke tanah,” kata Hajjaj

Kemudian Said membaca:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” [Quran Tha-ha: 55].

Hajjaj pun geram, ia berkata, “Sembelihlah musuh Allah ini! Aku belum pernah menjumpai orang yang suka berdalih dengan ayat-ayat Allah seperti dia.”

Said mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, “Ya Allah, jangan lagi Kau beri kesempatan ia melakukannya atas orang lain setelah aku.”

Wafatlah ulama besar ini pada 11 Ramadhan 94 H. Saat itu usia beliau 49 tahun.

Dan Allah mengabulkan permohonan Said bin Jubeir. Tak lebih dari 15 hari setelah wafatnya, Hajjaj terserang demam. Kian hari suhu tubuhnya semakin panas. Sampai ia sering pingsan karena demamnya. Kemudian ia pun meninggal.

Daftar Pustaka:

– Basya, Abdurrahman Raf’at. 2008. Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, Terj. Mereka Adalah Para Tabi’in. Solo: at-Tibiyan.

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

10 Ramadhan: Koalisi Negara Arab Menyerang Israel (Perang Yom Kippur)


Sebagian orang menyangka, negara-negara hanya bergeming dengan munculnya negara Yahudi Israel. Orang-orang Arab Islam takut. Mereka tak berupaya dan tak bersimpati atas Palestina. Benarkah demikian?

Perang yang terjadi pada tahun 1973 antara Arab (mayoritas negara Arab terlibat secara langsung maupun tidak langsung) versus Israel ini adalah perang keempat yang mereka lakoni. Perang ini memiliki banyak nama. Perang Ramadhan, karena terjadi pada 10 Ramadhan 1339 H. Bertepatan dengan 6 Oktober 1973. Karena itu, perang ini juga dikenal dengan Perang Oktober 1973. Perang ini juga disebut dengan Perang Yom Kippur. Karena serangan koalisi Arab dilakukan saat Yahudi merayakan hari paling agung dalam tradisi mereka, hari Yom Kippur.

Perang ini dimulai dengan serangan Mesir dan Suriah terhadap posisi Israel di sepanjang Dataran Tinggi Golan dan Terusan Suez. Mesir dan Suriah ingin merebut kembali wilayah mereka yang diduduki Israel pada tahun 1967. Perang yang berlangsung selama 19 hari ini awalnya dimenangkan oleh orang-orang Arab.

Pada tanggal 10 Ramadhan 1339 atau 6 Oktober 1973, pasukan Mesir melintasi Terusan Suez. Pasukan Mesir berhasil menguasai kembali Daratan Sinai. Israel menderita kekalahan. Penyerbuan mesir ke Sinai dimulai dengan satu serangan udara dan gempuran artileri. Lebih dari 200 ton peluru meriam berdaya ledak tinggi yang disembunyikan di bukit-bukit pasri pesisir Terusan Suez berhasil menghantam sasaran-sasaran yang sudah ditargetkan. Pesawat-pesawat MiG Mesri meraung-raung di atas Suez. Menukik. Membomi. Memberondong. Dan meroket kubu-kubu Israel di Garis Bar Lev. Belum lagi peledak-peledak yang dipasangi Pasukan Katak Mesir juga berhasil diledakkan.

Kemudian pasukan penyerang Mesir segera bergerak dengan perahu-perahu motor mereka. Dalam waktu beberapa menit mereka berlarian menuruni Terusan dan menyalakan perahu motor untuk menyeberangi perairan selebar 180 meter. Setelah itu, mereka mendirikan sebuah landasan serbu sebagai titik awal untuk serangan berikutnya. Pasukan berikutnya pun tiba. Mereka berjumlah 10.000 prajurit dan didukung oleh 1.350 tank serta 150 senjata anti pesawat. Pasukan mesir berhasil memenangkan pertempuran di hari pertama.

Kemenangan ini bukanlah tanpa perlawanan dan pengorbanan. Mesir harus membayar kemenangan mereka dengan gugurnya 64 orang tentara Mesir. 420 luka-luka. 17 tank mereka mengalami kerusakan. 26 kendaaraan lapis baja dan 11 pesawat tempur dan helikopter mengalami kerusakan.

Sementara pihak Israel mengalami kerugian dengan 2838 orang tewas. 2800 luka-luka. 508 tawanan kabur. 840 tank, 400 kendaraan lapis baja, 109 pesawat tempur dengan helikopter, dan satu kapal perang hancur.

Penderitaan Israel tidak berhenti sampai di situ. Pada pukul 14.00 di hari yang sama, gantian Suriah menghajar mereka. 60 pesawat tempur Suriah terbang membomi sasaran-sasaran Israel. Sementara meriam-meriam mereka membuka gempuran gencar untuk melemahkan militer Israel. 800 tank Suriah pun masuk ke wilayah darat negara Yahudi itu.

Hari-hari awal Perang Yom Kippur ini menjadi milik bangsa Arab. Sampai akhirnya, Israel dengan dukungan negara adidaya, Amerika, berhasil memutar balikkan keadaan. Hingga kemudian dibuatlah perjanjian damai. Antara negara-negara Arab dengan Israel.

Sumber:

– Oktorino, Nino. 2014. Kisah Perang Yom Kippur. Jakarta: Gramedia.
– https://islamstory.com/-10_رمضان_حرب_العاشر_من_رمضان

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

9 Ramadhan: Asad bin Furat Memimpin Pembebasan Sisilia


Asad bin Furat bin Sinan adalah tokoh dalam keberanian dan kepahlawanan. Ia belajar Islam dari dua tokoh besar; Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bin Anas. Khalifah Dinasti Aghlabiya, Ziyadatullah, menunjuknya sebagai gubernur Afrika Utara. Menjabat gubernur, memudahkan Asad untuk menyebarkan Madzhab Maliki di benua hitam itu.

Kemudian Asad mulai mempersiapkan pasukan menuju Sisilia, Italia. Ia berangkat dengan 10.000 pasukan. Terdiri dari 1000 pasukan Kavaleri (pasukan berkuda). Saat tiba di Sousse (kota di Tunisia), tokoh-tokoh agama memberinya dukungan. Ringkikan kuda menggema di kota. Genderang-genderang ditabuh. Meriam-meriam berdentum. Melepas kepergian Asad bin Furat dan pasukannya menuju benua biru. Asad bin Furat berpidato, “Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah. Para jamaah, apa yang kalian lihat tidak akan bisa digapai kecuali dengan pena-pena. Bersungguh-sungguhlah kalian! Tekunlah dalam membukukan ilmu. Dengan ilmu, gapailah kemulian (Tarikh al-Qudha al-Andalus oleh al-Bahani. Hal: 54).

Pada tahun 212 H, Asad bin Furat menyeberangi laut. Ia menepi di Kota Fa’raz di Sisilia. Bertemulah dua pasukan. Umat Islam memberikan perlawanan sengit pada musuh mereka. Tunggangan-tunggangan dipicu maju. Orang-orang beriman berperang tanpa gentar. Membuat gentar pasukan Romawi di Sisilia. Sampai akhirnya kaum muslimin berhasil mengepung benteng Romawi di Sisilia. Namun sayang, sebelum pengepungan usai, Asad bin Furat wafat.

Mengetahui kabar wafatnya Asad bin Furat, moral pasukan Romawi naik. Mereka memaksa kaum muslimin mengeluarkan segala keberanian menghadapi mereka. Sampai akhirnya Sisilia berhasil ditaklukkan. Mendengar kabar kemenangan umat Islam di Sisilia, Ziyadatullah segera menginformasi keberhasilan pembebasan kota itu. Ia mengirim surat kepada Khalifah al-Makmun tentang kabar gembira ini. Melalui usaha Asad in Furat, Sisilia berhasil jatuh. Keberhasilan itu terjadi pada 9 Ramadhan 212 H.

Adz-Dzahabi mengatakan, “Bersamaan dengan keluasan ilmu yang dimilikinya, Asad bin Furat rahimahullah juga merupakan seorang penunggang kuda yang handal, pahlawan yang berani dan terdepan. Dengan gagah berani ia menyerang Sisilia yang dijaga 150 ribu pasukan. Salah seorang mengatakan, ‘Aku melihat singa yang memimpin pasukan yang membaca Surat Yasin. Kemudian ia memimpin pasukan. Dan berhasil memporak-porandakan musuh. Kulihat darah mengalir di lengannya. Ia mengalami sakit berat saat mengepung Syracuse’.” (Siyar A’lam an-Nubala, 10/288).

Luar biasa, dahulu kaum muslimin menggabungkan pahala jihad dan puasa di bulan Ramadhan. Membaca sejarah umat Islam, kita semakin sadar mengapa dahulu Islam jaya dan sekarang Islam lemah. Dalam keadaan aman, berkecukupan, dan tidak bekerja berat pun banyak umat Islam hari ini yang berbuka di siang hari Ramadhan. Wallahul musta’an…

Artikel : kisahmuslim.com
0

8 Ramadhan: Kelahiran Ja’far ash-Shadiq


Pada tanggal 8 Ramadhan 83 H, lahirlah seorang tokoh besar ahlul bait, Ja’far bin Muhammad bin Ali (Zainal Abidin) bin Husein bin Ali bin Abu Thalib rahimahullah. Beliau lahir di Kota Madinah an-Nabawiyah. Di kota nabi ini pula beliau tumbuh besar di tengah lingkungan ilmu dan agama. Ia banyak mempelajari ilmu agama dari ayahnya. Juga dari kakek pihak ibunya, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, yang terkenal sebagai salah satu ahli fikih Madinah.

Ja’far ash-Shadiq adalah seorang ulama mujtahid. Di antara kaidah ushul yang ia rumuskan adalah:

أن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد فيها نهي

“Hukum asal dari sesuatu itu adalah boleh sampai ada yang melarangnya.”

Ia termasuk ulama yang berpendapat tidak ada qiyas. Karena qiyas merupakan logika. Semuanya harus dikembalikan pada apa yang termaktub dalam Alquran dan sunnah. Beliau adalah ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Meskipun onrag-orang Syiah mengklaim bahwa beliau adalah imam mereka.

Banyak ulama besar berguru kepada Ja’far ash-Shadiq. Yang terkenal di antara mereka adalah Imam Abu Hanifah, Imam malik bin Anas, dan anaknya sendiri, Musa bin Ja’far. Atas dasar inilah, orang-orang Syiah promo di masyarakat Sunni bahwa imam mereka adalah guru dari ulama-ulama madzhab Ahlussunnah. Kemudian, mereka mulai mengajak masyarakat awam untuk menjadi Syiah. Dengan dalih persatuan Sunni Syiah. Waspadalah!

Ulama-ulama hadits juga banyak meriwayatkan darinya. Di antaranya Yahya bin Said al-Anshari, Ibnu Ihaq, Sufyan ats-Tsauri, Syu’bah bin al-Hajjaj, Yahya al-Qahthan, dan lain-lain.

Ja’far ash-Shadiq rahimahullah terus tinggal di Madinah hingga wafatnya pada tahun 148 H. Beliau dimakamkan di Baqi’. Tempat pemakaman yang sama dengan ayah dan kakeknya.

Lebih luas mengenal sosok beliau, bisa disimak di: http://kisahmuslim.com/4016-jafar-ash-shadiq-imam-ahlussunnah.html

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

7 Ramadhan: Masjid Al-Azhar Resmi Dibuka


Tanggal 7 Ramadhan menjadi tanggal bersejarah dalam perkembangan pendidikan dunia Islam. 7 Ramadhan 361 H, al-Jami’ al-Azhar resmi dibuka. Masjid yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan dunia. Bahkan universitas pertama di dunia.

Pada tanggal 7 Ramadhan inilah pertama kali shalat dilaksanakan di Al-Azhar. Suara muadzin terdengar dari puncak menaranya. Kemudian melayang-layang terbang di langit Kairo. Al-Azhar memiliki kedudukan prestisius di hati kaum muslimin. Meskipun yang membangunnya adalah seorang Syiah, Jawhar ash-Shaqli, di masa Khalifah Dinasti Fatimiyah, Mu’izuddin Lidinillah.

Banyak versi tentang asal-usul nama Masjid al-Azhar. Namun pendapat yang paling kuat, nama tersebut diambil dari kebiasaan orang-orang Syiah dalam menggelari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fatimah radhiallahu ‘anhu, dengan gelar Az-Zahra (bentuk jamaknya adalah al-Azhar).

Motivasi orang-orang Fatimiyah mendirikan al-Jami’ al-Azhar adalah untuk menyebarkan paham Syiah di Mesir. Akan tetapi -alhamdulillah- dengan cepat Mesir kembali ke pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah ketika dikuasai oleh Shalahuddin al-Ayyubi rahimahullah. Kemudian Al-Azhar malah menjadi menara tinggi yang menyebarkan paham Sunni atau Ahlussunnah.

Masjid al-Azhar memainkan peranan penting dalam sejarah Islam. Ia menjadi masjid sekaligus universitas. Bahkan, dari sana pula pasukan perang diberangkatkan. Dari sana pula revolusi perbaikan dimulai. Di sana dididik para raja dan tokoh-tokoh umat.

Al-Azhar dan para ulamanya memiliki peranan besar dalam menghadapi penjajah Perancis yang dipimpin Napoleon tahun 1798. Para ulama al-Azhar membakar semangat umat untuk mengadakan perlawanan. Membebaskan Mesir dari penjajahan. Sampai akhirnya, Napoleon dan pasukannya keluar dari negeri Nabi Musa itu.

Al-Azhar juga memiliki peranan penting dalam menghadapi penjajahan Inggris di Mesir. Pusat pendidikan itu bergabung dalam perlawanan Arab pada tahun 1881 menghadapi Inggris. Para ulama al-Azhar berpengaruh besar dalam membangkitkan ruh nasionalisme Mesir melawan Inggris. Dan mematikan benih-benih sengketa antara umat Islam dan orang-orang Koptik di Mesir.

Sungguh al-Azhar menjadi penjaga keamanan yang ingin dirusak oleh para penjajah.

Sumber: http://www.alukah.net/spotlight/0/73304/#ixzz4jWV9XNlv

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

6 Ramadhan: Pembebasan Wilayah Sind


Tanggal 6 Ramadhan 92 H, Muhammad bin al-Qasim berhasil mengalahkan pasukan Hindustan di Sungai Indus. Kemenangan itu sekaligus menandai takluknya wilayah Sind (sekarang: Pakistan dan India Barat). Keberangkatan kaum muslimin menuju Sind didahului dengan pengangkatan Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi sebagai Gubernur Irak. Hajjaj meminta izin kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik untuk menyiapkan pasukan menuju wilayah Hindustan dan Sind.

Keberangkatan pasukan ini dipicu pembajakan delapan buah kapal yang berisi anak-anak dan wanita-wanita muslimah oleh perompak di dekat Debal. Salah seorang dari rombongan tersebut berhasil menyelamatkan diri dan melapor kepada Hajjaj. Hajjaj mengirim surat protes keras kepada Raja Dahir. Ia meminta tawanan dibebaskan, perbendaharaan kapal yang hilang diganti kerugiannya, dan para perompak itu dihukum. Namun Dahir menolak permintaan Hajjaj. Hajjaj pun meresponnya dengan mengirimkan angkatan militer.

Pada pemberangkatan yang pertama, Hajjaj mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Abdullah bin Nabhan as-Silmi menuju Debal. Abdullah bin Nabhan gugur dalam misi tersebut. Kemudian ia mengirim Budail bin Thahfah al-Bajali membawa 3000 pasukan. Ia pun gugur. Hajjaj bersedih atas wafatnya panglimanya itu.

Berikutnya, Hajjaj menunjuk Muhammad bin al-Qasim ats-Tsaqafi sebagai panglima pasukan. Saat itu, umur Muhammad bin Qasim baru 17 tahun. Panglima muda ini segera menggerakkan pasukannya menuju Kota Shiraz. Guna menyempurnakan persiapan. Dari sana, Muhammad bin al-Qasim berangkat bersama 12.000 pasukan menuju Makran (sekarang: masuk wilayah Iran dan Pakistan). Kemudian menuju Fanzabur. Lalu Armail. Dari tempat terakhir itulah ia menyerang wilayah Debal. Pasukan kaum muslimin menyerang benteng mereka. Hingga Muhammad bin al-Qasim berhasil masuk ke dalam benteng.

Setelah berhasil menguasai Debal, kaum muslimin beranjak menuju Neron (sekarang: Hyderabad, India). Mereka melintasi Sungai Indus selama enam hari. Setelah itu bergerak menuju Suristan. Sebuah kota yang dipagari benteng yang tinggi. Tapi, Muhammad al-Qasim berhasil menaklukkannya. Setelah itu, ia menaklukkan Suisse. Kemudian kembali ke Neron.

Keberhasilan itu mengantarkan Muhammad al-Qasim melintasi Sungai Mehran untuk menghadapi Dahir, Raja Sind. Kemudian ia melanjtukan perjalanan ke daerah Jeyur dan menempatkan pasukannya di dekat sungai. Di sana, kaum muslim berperang selama 7 hari. Pasukan Sind, yang dipimpin oleh Dahir mengerahkan gajah-gajah mereka untuk berperang. Tak kurang dari 60 gajah menyesaki medan tempur. Pertempuran sengit itu diakhiri dengan kemenangan kaum muslimin.

Kaum muslimin mengejar pasukan Dahir yang lari tunggang langgang. Sampai mereka tiba di Benteng Raur. Kaum muslimin berhasil menaklukkan benteng tersebut. Selanjutnya, Muhammad bin al-Qasim juga menaklukkan Kota Dahlilah.

Tidak berhenti sampai di situ, Ibnu al-Qasim terus bergerak menuju Brahmanabad (Mansura) dan berhasil menguasainya. Ia terus bergerak dan terus menguasai berbagai wilayah. Hingga mencapai Kashmir. Dari wilayah-wilayah yang dikuasai, ada dengan cara damai. Ada pula yang dengan peperangan. Kota terpenting yang dikuasai adalah Kota Multan (sekarang wilayah Pakistan). Pada masa berikutnya, wilayah-wilayah ini berada di bawah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Sayangnya, tidak dalam waktu yang lama. Tidak lebih dari 30 tahun saja.

Daftar Pustaka:

Karim, Abdul. 2003. Sejarah Islam di India. Yogyakarta: Bunga Grafies Production.
As-Sirjani, Raghib. Fathu as-Sind. http://islamstory.com/-6_رمضان_فتح_السند

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

5 Ramadhan: Kisah Duka dari Kota Lod, Palestina


Bulan Ramadhan menyimpan sejarah bahagia dan duka. Ada peristiwa kemenangan dan ada juga kehilangan. Pada tanggal 5 Ramadhan, sejarah Islam mencatatkan halaman kelamnya. Ketika penjajah Zionis Yahudi melakukan pembantaian terhadap penduduk Kota Lod, Palestina. Peritiwa ini terjadi di sore hari 5 Ramadhan 1367 H bertepatan dengan 11 Juli 1948 M. Pasukan pembantai ini dipimpin oleh seorang zionis, Moshe Dayan.

Sore itu, rentetan gemuruh peluru memecah keheningan menuggu waktu berbuka. Yahudi menyerang dua kota; Lod dan Ramallah. Dengan kejamnya mereka membunuhi penduduk Palestina di tengah jalan. Antara Yafa dan Quds.

Tanggal 10 Juli, Ben Gurion (perdanan menteri pertama Israel), menunjuk Yigal Alon sebagai komandan untuk menyerang Kota Lod dan Ramallah. Sedangkan Yitzhak Rabin sebagai wakilnya. Yagil Alon diperintahkan untuk memulai serangan dari udara. Inilah pertama kalinya Yahudi menyerang pemukiman Palestina melalui serangan udara. Serangan udara itu diikuti dengan serangan dari darat pula. Langsung ke jantung kota. Hal ini menyebabkan relawan kemanusiaan dan pasukan perdaimaian Arab berjaga-jaga di pinggiran Lod. Tapi, Inggris menginstruksikan agar mereka angkat kaki dari sana.

Setelah pasukan dan relawan itu beranjak dari pos-pos mereka di Lod, kota ini dijaga oleh pemuda-pemuda sipilnya dengan senjata ala kadarnya. Mereka berjaga di masjid kota. Setelah berperang hanya dalam hitungan jam, penduduk pun kehabisan amunisi dan dipaksa untuk menyerah. Sejurus kemudian, zionis Yahudi masuk ke masjid dan membantai mereka di sana.

Pasukan Yahudi berusaha menaklukkan kota dengan berbagai cara. Mereka masuk kota dengan dua brigade pasukan. Satu brigade memasuki kota pada pukul 10 pagi dari arah selatan melalui desa Annabah. Dan brigade yang kedua masuk melalui sisi Barat Daya. Dengan cepat pasukan ini menguasai bandara kota. Jatuhnya bandara menyebabkan terisolasinya kota. Strategi ini memastikan Kota Lod dan Ramallah tak mendapat suplai dari luar. Baik suplai logistik perang atau bahan makanan. Akhirnya kedua kota ini pun dikuasai penuh. Para aktivis tak mampu menahan serangan artileri dan tank-tank Yahudi.

Yahudi mulai menghujani pemukiman padat penduduk dengan bom-bom dan peluru.

Zionis Yahudi terus memberikan tekanan sepanjang pertempuran. Fokus serangan mereka tertuju pada Kota Lod. Serangan intens terjadi di siang hari di sisi timur Desa Daniel. Pejuang muslim di kota itu memberikan perlawanan. Setelah satu jam setengah pertempuran berlangsung, Zionis kehilangan 60 orang tentaranya. Namun logistik perang yang minim membuat pejuang kota kembali kehabisan senjata. Kemudian Zionis meluncurkan pasukan serangan lain, yang lebih besar dan didukung oleh kendaraan lapis baja. Mereka menembaki siapapun, tak peduli perempuan, orang tua dan anak-anak.

Setelah itu, tentara Zionis menyerang markas pasukan Yordania di Kota Lod. Tindakan ini memicu kemarahan penduduk. Mereka mengekspresikan emosi mereka dengan turun ke jalan. Menanggapi aksi masa itu, pemerintah Zionis menginstruksikan tentara-tentara untuk menghabisi semua yang turun ke jalan. Tak ayal, 250 nyawa penduduk Palestina melayang seketika. Peristiwa pembantaian ini menjadi pembunuhan masal dalam jumlah besar dan waktu tercepat dalam sejarah.

Moulay Cohen mencatat kengerian yang luar biasa dalam tragedi pembantaian di Kota Lod dan Ramallah ini. Ia menyebut peristiwa yang mengakibatkan ratusan nyawa melayang dan pengungsian ini dengan kejahatan perang.

Total korban dalam peristiwa ini mencapai 426 orang. Termasuk 176 orang yang tewas di Masjid Dahmash pada serangan hari pertama. Catatan lainnya menyebutkan 335 orang tewas. Termasuk 80 orang di Masjid Dahmash.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kaum muslimin di Palestina dan negeri-negeri lainnya.

Sumber:
– http://islamstory.com/-5_رمضان_مجزرة_اللد

Oleh Nurfitri Hadi - kisahmuslim.com
0

KISAH NABI

KISAH SAHABAT

KISAH PILIHAN

Copyright © 2017 | Privacy Policy | Disclaimer | Terms of Service | Sitemap | Kisah Tauladan | Powered by Blogger